Selasa, 29 September 2015

TEMBANG DOLANAN

SEMUT IRENG

Semut ireng
Anak-anak sapi
Nyabrang kali bengawan
Keong gondang dawa sungute…


(dandang gula…sunan kali jaga)

Apresiasi
Sebuah karya bernafas Parodi Kehidupan, sebuah Tembang bernada Ironi Kegetiran, sebuah Keprihatinan akan Krisi Eksistensi diri (ada semut kok beranak sapi)
Ada nada Sumbang terasa menusuk, (mengapa bangsa ini selalu silau dengan budaya seberang/nyebrang kali ada rasa pahit dari seorang anak negeri…
Semakin samara Jati diri
Semakin kabur Karakter Budaya asli
Semakin arogan budaya seberang (keong gondang)
Seolah norma mereka paling benar..
Sampai mereka lupa menghormati Tuan Rumah..


TEMBANG DOLANAN
SLUKU-SLUKU BATHOK
BATHOKE ELA-ELO
SIRAMA MENYANG SALA
LEH OLEHE PAYUNG MUTHA
TAK JENTHIT LO LO LO BHAH
WONG MATI ORA OBAH
YEN OBAH MEDENI BOCAH
YEN URIP GOLEK O DUWIT…
(SUNAN KALIJAGA)
RESENSI
Penggarapan budaya dengan pendekatan psikologi sosil ?tembang dolanan yang ditembangkan mulai dari anak2 hingga terjadi interaksi psikologis (akrab) dan sampai mereka dewasa akan mencari wacana sastrauntuk menyelami kedalaman makna yang tersirat 
Sebuah Rancang bangun-Ide yang genius dari para Leluhur yangf menggarap budaya dan aplikasi yang akomodatif tanpa mematikan/menggusur budaya asli, sebuah pendekatan dakwah/syiar agama berbudi pekerti (bagaimana dengan era sekarang …)

RENUNGAN I

Serignkita terhanyut dalam Rutinitas(ritus) sebagai penekan rasa tidak ama/takut yang akhirnya membuat sang jiwa seperti Mati/tidak berkembang, padahal sang jiwa seharusnya masih menempuh Rally Kehidupan (Sang Misteri Agung)
The Tenth Insight..James Redfield

Tafsir..
Jiwa adalah bagian dari amnesia yang sangat Trasedental (Litas Batas), bias memberi inspirasi Akal, bias mengarungi samudera Gaib…, termasuk Alam Maya, karena jiwa adalah bada kedua dari tiga badan manusia :
1. badan Raga (indera)
2. badan jiwa (rasa)
3. badan ruh (spirit)
Manakala sang jiwa sebagai Median mengalami kekacauan maka metabolisme dan ritme raga (phisik) akan mengalami kekakacauan. Maka perlu kianya sang jiwa dilatih agar dapat menjadi jembatan yang baik /stabilizer antara badan raga dan bandan ruh…(selamat merenung)..

RENUNGAN II

Deskripsi bukan benda yang dieskripsikan kata-kata bukan wujud, mari kita mulai melihat segala sesuatu denga Apa adanya, bukan dengan Yang seharusnya ada, atau yang pernah ada, Untuk menjadi Bijak kita perlu bathin yang jernih tanpa subyektifitas dan intervensi dalam bentu apapun.
The Imposible question….Krishnamurti…


Apresiasi
Sering kita terjebak Arogansi Intlektual dan lebih parah lagi kalau sampai pada taraf Taklid Buta (fanatisme/fundamentalis).
Hendaknya kita ingat, bahwa segala sesuatu teori/wacana adalah wahana FIkir untuk menuju pemahaman jiwa(sampai kearah Iman dan Takwa), adalah mustahil rasa madu dan manisnya bias dipahamicukup dengan gambaran kata atau teori.. karena rasa butuh pembuktian dan akan mengantarkan kita pada Sejatine rasa / rasa jati…

RENUNGAN III

Ada orang merasa dirinya sudah suci, tetapi hanya percaya pada kebenaran kata demi kata dari kitab suci…sayangnya ia belm cukup matang untuk memahami diri sendir..
Mata ketiga….T. LobsangRampa

Sari Hikmah :
Nenek moyang kitasudah sejak dulu mempraktekkan filosofi :
a. Mulat salira Hangrasa Wani (Berani Instropeksi Diri)
b. Nagi o neng Pono Rogo (Belajarlah Ke Pono =Ngeti/Faham, Rogo = Diri Sendiri)
c. Ojo Rumansa isa, ning isa a Run\mangsa (Jangan sokpandai tapi pandailah mawas diri)

Dari uraian dan wawasan diatas, tersirat begitu pentingnya Aspek Kedewasaan Jiwa dibandingkan Aspek Eksternal (korelasi Jagad alit dan Jagad Agung)
Mata Ketiga adalah Mata Jiwa/mata Batin yang mampu menembus keterbatasan ruang dan waktu menuju Alam Astal.

RENUNGAN IV

Paling sulit bagi kita, ketika harus menghadapi “Mayority Do”
An Enemy of The People…Henry Ibsen//Hongaria

Tafsir..
Kebenaran normative yang terlanjur di yakini oleh masyarakat luas, sering kali membelenggu “kebenaran Sejati” (butuh kebangkitan kita) ada ungkapan filosofi leluhur yang sederhana dan mudah difahami :
“ Sing apik, during mesti bener sing bener ora kudu apik ….”
(yang bagus belum tentu benar, yang benar tidak harus bagus)
Memang tidak mudah menjadi sosok eksitesialis, karena dituntut punya integritas tinggi dan punya daya juang (energi lahir batin yang luar biasa) sampai pada titik Damai dengan Jati diri Sendiri tanpa mengisolaso dan lari dari kenyataan hidup..
Damailah dengan dirimu baru damai seisi dunia,tiada kedamaian tanpa damai denga sang Ego…..Isa Al masih….


MELATI RINONCE SURA CHANDRA

1. Sudah saatnya bangsa ini Re-Instropeksi re-Evaluasi dan menegakkan jati diri
2. Sudah saatnya ada kesadaran akan pentingnya Kebangkitan Jiwa (moral Force)
 
karena akhir2 ini kita sangat terjebak akan kebanggaan hiruk ikuk
 
materialisme dan kemunafikan
3. Sudah saatnya kita merdeka dari penjajahan dan intervensi fihak asing hingga
 
membekukan Karakter Bangsa/ Identitas Diri
4. Sudah saatnya kita Anak negeri ini bangga dengan budaya/identitas bangsa
sendiri tanpa kelatahan mengadopsi budaya sebrang

“Hai saudaraku anak cucu bangsa Nusantara sudah saatnya Semut Ireng Bangkit dan jadi Tuan di negerinya sendiri jangan sampai orang asing jadi Majikan di negeri ini …Merdeka…
Padepokan Agung nDermo…13 april 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar